"Kau ingin ikut?"

Katanya sambil memainkan handphone dengan memutar-mutarkannya di meja.
mata itu. Mata coklat itu, memandang tajam mataku.

Tidak, bukan tatapannya yang tajam. Maksudku, tatapannya sangat intens ketika ia melontarkan pertanyaan itu padaku.

"Kemana?" sahutku. Oh tuhan aku bahkan tak sanggup menjawab pertanyaan sambil menatapnya dengan lama.

"Yang tadi ku bilang. Aku dan yang lain ingin pergi ke Street Food Festival di Grand Indonesia, sabtu besok. Kau ikut saja" aku tak bisa menjelaskan apakah tawarannya hanya sekedar basa basi atau mengharapkan aku benar-benar ikut. Bicaranya santai, namun pasti. Aku baru mengenalnya satu bulan ini, namun didekatnya saja jantungku berdegup kencang, badanku lemas, perutku terasa geli. Aku tidak yakin dia merasakan hal yang sama, karena sikapnya santai.

"Sepertinya tidak bisa" jawabku.

"Mengapa? Ada acara?" dia benar-benar bertanya. Kini aku tahu, ajakannya bukan basa basi. Iya, terdengar dari nada bicaranya.

"Iya. maaf ya aku tidak bisa ikut" jawabku lagi.

Sungguh sebenarnya aku ingin ikut, aku hanya tidak mengenal dekat teman-temannya yang lain. Jika berdua saja dengannya, aku pasti mau.

"Baiklah" ia meninggalkan percakapan dengan senyuman.

Aku tahu dia tidak merasakan hal yang sama padaku. Aku tahu. Dari percakapan 5 tahun yang lalu diatas, sampai sekarang kami hanya berteman. Pasti ada sesak di dada, pasti. Karena aku selalu berharap lebih. Namun aku tahu, aku tidak bisa memaksakan kehendak. Dan dengan keterbatasan nyaliku, aku selalu diam tak pernah mengungkapkan perasaanku.

Yah paling tidak, aku masih bisa memandang mata coklat indahnya. Percayalah itu salah satu nikmat yang tuhan berikan padaku.

Paling tidak, aku masih bisa mendengar suaranya merdunya ketika berbicara. Iya, berbicara. Dia tidak perlu nyanyi untuk memberikan ketenangan ketika aku sedang tidak tenang, aku hanya harus mendengar suaranya.

Paling tidak, aku masih bisa berpelukan dengannya pada saat2 tertentu. Pada saat kelulusan, pada saat salah satu dari kami sedang berulang tahun, atau ketika salah satu dari kami sedang bersedih.

Paling tidak, aku masih bisa menggenggam tangannya yang kuat. Iya, kuat. Entah apapun alasannya, ku menganggap dia seorang yang kuat.
Tangannya pun ikut kuat.

Paling tidak,

yah paling tidak kita masih berteman, berdekatan dan tidak berjauhan.

bagiku, itu cukup.



Alifia Andhika, 11.55 pm January 18 2021

Comments

Popular Posts