Cerpen - Kalea dan Kelebihannya
Kalea
dan kelebihannya
Tik tok tik tok, suara jam dinding berbentuk Mickey
Mouse itu memecah keheningan kamar. Kalea sedang termenung dan termenung. Dia
melamun dan melamun sepanjang hari, bahkan es teh manis favorit buatannya sejak
2jam yang lalu belum seteguk pun ia minum, sampai2 esnya sudah mencair. Bisa
dibilang sudah bukan es teh manis lagi namanya, es teh tawar. Tawar karena es
yang mencair dan menghilangkan rasa manis yang segar. Minuman segar kesukaannya
itu dibuat dengan harapan penuh akan menyegarkan pikirannya, menyenangkan
suasana hatinya. Tapi ternyata tidak, satu hal di pikiranya yang sedang berdiam
mampir diotaknya itu tidak mau pergi sejak datangnya sore kemarin.
“Apa ya?” gumamnya sambil menatap langit-langit kamar
yang dipenuhi sticker glow in the dark.
Ibu nya yang memasangkannya saat ia berumur 6 tahun. Dulu waktu kecil Kalea
ingin seperti kamar temannya yang penuh dengan sticker bintang dan bulan itu. “Apa yang bisa dibanggakan dariku?”
lanjutnya. Sudah menjadi habit bagi
Kalea dalam menyalahkan diri sendiri. Tak percaya diri, minder, suka
membandingkan diri dengan orang lain, overthinking,
dan selalu rendah diri.
Shana baru saja mendapatkan gelar sarjananya kemarin.
Tanpa disangka-sangka oleh Kalea, Shana mendapatkan nilai A dengan beribu
pujian dari dosen penguji sidangnya. Sahabat karibnya sejak 5 tahun yang lalu
itu mendapatkan banyak appreciation post
di social media dari teman-temannya.
“Memang ya, hidup Shana itu perfect,
gak kaya aku”. Kalea menggaruk-garuk kepalanya, mengusap-usap kasar wajahnya.
“Ayo dong Kal! Apa yang bisa kamu banggain? Si Joey, lulus dari kuliah langsung
lanjut jadi photographer, udah fotoin
banyak model pula! Si Sera, nganggur2 gitu juga tetap ada usaha kecil-kecilan.
Ulli apalagi, masih ada sisa waktu magang. Mala juga masih magang, ah kamu mah
apa cuma bisa abisin duit orang tua. Apply
sana sini gak dapet-dapet, gak ada usaha kecil-kecilan pula. Bisanya apa sih
Kal selain jago tiduran dikasur dan stalking
orang-orang? Oke kalo kamu udah lulus 3,5 tahun dan dapat IPK diatas 3, lalu apa?
Udah kan itu doang ya…?” Kalea terus menyalahkan dirinya seolah-olah
benar-benar tidak ada satupun yang bisa dibanggakan. Bukannya Kalea malas mulai
usaha kecil-kecilan, tapi dia merasa bakat entrepreneur
nya yang gak ada.
Kriiing.. handphone
Kalea bunyi. Oh… itu dari Shana. “Hai! Ada apa Shan?” keahlian Kalea selain stalking socmed dan tiduran dikasur
sepertinya sudah bisa kelihatan ya. Iya, sandiwara. Seolah-olah semuanya
baik-baik aja. Seolah-olah yang dia rasain itu hanya pura-pura. “Gak lagi
ngapa-ngapain. Gimana, masih senang ya soal sidang kemarin?” Side job nya Kalea semenjak 5 tahun yang
lalu itu cuma satu. Bikin Shana senang. Dengan itu, dengan liat Shana senang,
Kalea juga bakal ikut senang. Di telepon, Kalea dan Shana buat janji akan
ketemu malam nanti. Pasti banyak yang ingin Shana sampaikan, Kalea sudah
seperti langganan jadi tempat curhatnya Shana, entah tentang cowok-cowok
gebetannya yang bejibun, tentang kerjaan sampingan Shana sebagai barista, atau
banyak lagi lah. Di mata Kalea, Shana itu udah cantik, pinter, jago bahasa
inggris, pandai bergaul, good-looking,
rajin ibadah, ulet soal kerjaan. Padahal papanya Shana orang kaya, tapi Shana
gak malu dan gak pernah malu untuk cari kerja sampingan sebagai barista untuk
nambah-nambah uang jajan. “Di usia gue yang 21 tahun ini gue jadi insecure banget Kal kalo sampe belum
dapet kerjaan part time. Ya gue
mikirnya kita udah gede, udah harus bisa cari uang sendiri” pernah suatu saat Shana
ngomong gini ke Kalea, setahun yang lalu. Kalea cuma bisa kagum dan iseng
ikutin jejak Shana untuk cari-cari part
time job jadi barista, tanpa Shana tahu.
Kalea itu seperti support
system bagi Shana. Kalea sering terjaga tengah malam kalau Shana sebelumnya
chat bilang “Kal, nanti pulang kampus
gue telfon lo ya, biasa nih di Riva, resek banget gak ada kabar sama sekali
hari ini, gue pengen cerita”. Riva, pacar Shana yang brengsek, Kalea kesal
sekali sama Riva. Kalea cuma nurut dan merasa senang bisa bantu Shana dengan
meringankan beban diotak Shana karena udah mau cerita ke Kalea.
Atau suatu malam pas Kalea udah hampir tidur tiba-tiba
Shana nge-chat dan bilang kalo dia
masih stuck di daerah
Jakarta Timur yang jelas-jelas jauh banget dari rumah Shana. Waktu itu ada
tugas observasi buat skripsi Shana. Kalea gak bisa apa-apa, dia cuma bisa nahan
ngantuk sampe pagi karena Shana stuck disana
sambil neduh hujan. Kalea cuma bisa nemenin chat Shana. Kalea selalu nyisihin
uang jajannya yang pas-pasan demi bisa beliin makanan kesukaan Shana,
kadang-kadang. Kalea senang bisa lihat sahabatnya itu senang karena dia. Kalea
pengen Shana bisa semangat sepanjang hari dan itu bisa buat Kalea senang.
Malam terasa cepat datangnya, sekarang menunjukkan
pukul 7 dan Kalea bersiap ganti baju dan rapi-rapi, sebentar lagi ojek online
nya datang, jika dilihat dari maps di
aplikasi. “Kali ini Shana pengen cerita apa ya?” gumam Kalea. Sudah pasti
pertemuan mereka itu banyak cerita, biasanya yang paling bawel itu Kalea,
cerita yang terpenting sampai yang gak penting sama sekali itu bakal jadi
langganan ocehannya dia. Shana dengan senang hati nge-respon dan dengerin
kebawelan Kalea. Kondisi mental Kalea gak sepenuhnya sehat seperti orang-orang
pada umumnya atau seperti sahabatnya, Shana. Kalea kadang harus suffer dengan anxiety attack dan panic
attack yang kadang-kadang datang disituasi tertentu dan cuma Shana yang
bisa ngerti dan nenangin Kalea. Pernah Kalea mengikuti seminar tentang
kesehatan mental, lalu banyak belajar dari social
media tentang kesehatan mental. "Udah meditasi belom? Coba buka lagi
aplikasi meditasinya sana, abis itu coba nulis lagi" kata-kata yang beribu
kali Shana ucapkan ketika Kalea dalam kondisi yang stress dan gelisah. Memang cuma Shana yang mengerti.
Ojek yang dinaiki Kalea berhenti didepan café
di salah satu daerah cipete selatan. Dari jauh Kalea sudah melihat Shana sedang
duduk menunggu Kalea. Perlahan Kalea mendekati Shana, fettuccine carbonara dan satu kaleng Diet Coke itu menghiasi meja
yang ditempatkan Shana. “Ih! Kok lo mesen duluan sih? Ah males deh gak nungguin
gue” kata Kalea sambil cemberut. “Gue udah pesenin buat lo juga Kal, makanan
kesukaan lo. Hari ini gue yang traktir ya? Dan kenapa gue pesen duluan bukannya
lo milih sendiri, karena gue pengen surprise
Kal! Gue pesen makanan kesukaan lo” kata Shana semangat sambil menarik tangan
Kalea untuk duduk disebelahnya. “Wow! Oke kalo urusan ditraktir ya lain cerita”
“Hahahaha” mereka tertawa bersama. Selang 3 menit dari Kalea sampai, pelayan
restoran itu membawa pesanan menu untuk Kalea. Kalea terkejut. Sifat
ekspresifnya memang tidak bisa dibohongi, wajahnya senang dan matanya semangat
menatap menu yang baru saja datang. “Oh
my God, this beef lasagna looks so sexy” ujarnya, dan satu lagi makanan
mendarat di meja mereka “terus ini apa lagi? Lo pesen 2 menu?” tanya Kalea. “Please deh, macaroni schotel with extra cheese. Ya buat kita lah! Lagian
emangnya lo cukup makan satu menu?” “hahaha ya engga lah Shan! oke gue udah
laper. Bon Appetit!”. Kalea dan Shana
menyantap makanannya. Disela-sela itu mereka bercanda dan ngobrol.
“Gue tau apa yang lo pikirin Kal. Dari semua omongan
lo dari kemarin yang gue tangkep, lo cuma bisa membandingkan diri lo dengan
orang lain. ‘nobodys perfect’ Kal.
Kalo lo ngeliat gue yang sukses skripsinya bisa dapet nilai A, lihat diri lo.
Hasil skripsi lo juga A?” terang Shana. “Beda Shan, gue cuma dapet itu dan lo
dapet semuanya, pujian dari dosen dan lain-lain” jawab Kalea sambil memainkan
sendok digelas es teh yang dipesannya itu. “Lo kalo liat orang sukses, jangan
liat hasilnya aja. Lo liat dari prosesnya juga dan-“ “Iya gue tau usaha lo
emang maksimal banget sih Shan” belum selesai Shana berbicara, Kalea sudah
memotongnya. “Gue belom selesai ngomong Kal” tangan Shana menggenggam tangan
Kalea. “Selain lo liat prosesnya, lo liat orang dibelakangnya Kal. Orang yang
selalu support dan bisa bikin sukses. Dan orang itu elo Kal” Kalea hanya
terdiam, di harus respon apa? Pikirannya masih mencerna kata-kata Shana.
“Mungkin secara akademik, dari yang lo omongin, lo biasa-biasa aja Kal. Secara
intelektual ya otak lo biasa-biasa aja lah ga pinter-pinter amat” canda Shana,
“Kan ngeselin!” jawab Kalea sambil tertawa. “Dengerin dulu Kal, gue belom
selesai ngomong”, “okay Shan, go on” jawab
Kalea. “Mungkin saat ini secara prestasi dan pencapain belom ada yang bisa
dibanggain dari diri lo kal. But you
gotta take a look at yourself. You have a good heart. You do. Lo selalu
bantu temen lo yang kesusahan. Lo selalu ada buat gue, selalu dengerin cerita
gue, selalu dukung gue dalam hal apapun. Selalu nguatin gue dan semangatin gue
dalam segala hal. Lo meluk gue dan ngusap air mata gue ketika gue sedih Kal. Lo
nemenin gue begadang skripsi, lo pesenin makanan kesukaan gue pas mood gue jelek. Percaya ga kalo gue
bilang, salah satu faktor suksesnya gue ini karena elo?” Kalea hanya bisa
terdiam dan gak nyangka Shana akan berkata seperti itu. “Ngerti kan maksud gue?
Lo adalah orang dibalik suksesnya gue, suksesnya temen-temen lo. Lo lebih
berjasa dan bernilai daripada kita-kita yang sukses ini. Kalo gak ada lo, gue
belum tentu ada dititik ini. Sekarang kalo lo bingung apa yang bisa dibanggain
dari diri lo, yang selama ini lo keluhin ke gue, nih jawabannya. You have a good heart, you are a good
friend, you are a good person. Lo adalah pendengar cerita dan keluh kesah
yang baik, yang gak gue dapetin dari temen-temen guenyang lainnya. Itu yang
bisa lo banggain dan lo harus berterimakasih kepada Tuhan untuk itu. Thanks ya Kal, lo udah selalu ada untuk
gue. Thanks, karena lo gue udah bisa
sampe dititik ini.” Kalea tertegun. Benar. Apa yang dikatakan Shana benar.
Kalea bersyukur punya teman sekaligus reminder
seperti Shana.
Kalea jadi teringat si Friska, teman satu jurusan
Kalea yang bawelnya minta ampun kalau nanya-nanya soal skripsi. Kalea tetap
sabar dan tetap kasih saran dan tetap membantu Friska mengerjakan skripsinya.
Atau si Bonbon, cowok cem-ceman Kalea yang ganteng tapi bawel
kalau sudah bertanya tentang skripsi. Tapi ya Kalea tetap sabar, mendukung dan
membantu teman-temannya yang kesusahan selama proses pembuatan skripsi mereka.
Kalea bersyukur malam ini bertemu Shana dan ngobrol banyak dengan Shana.
Sampai-sampai, akhirnya handphone
Kalea berbunyi “Iya pa, sebentar lagi aku pulang. Nanti dianter Shana sampe
jalan depan. Nanti papa jemput aku ya”. Klik. Kalea mematikan teleponnya
"Please
jangan overthink Kal. Ubah mindset lo kalo lo itu bukan
siapa-siapa, kalo lo itu nothing.
Bukan Kal, you are that one thing".
Shana berbicara panjang kali lebar seperti rumus matematika pada malam itu.
Dari perjalanan keluar café, sampai depan jalan rumah Kalea,
pikiran Kalea campur aduk. Tapi tetap, bersandiwara didepan Shana, seperti
tidak ada yang dipikirkan. Di mobil Shana mereka ngobrol dan bercanda-bercanda
seperti biasa.
Kalea membuka pintu kamarnya dan menghempaskan
tubuhnya ke kasur empuk kesayangannya itu. Memikirkan dan masih mencerna
perkataan Shana. Dia benar. Seburuk-buruknya orang, pasti selalu ada hal baik
di dalamnya. Tidak selamanya dan tidak sepenuhnya seseorang itu mempunyai
keurangan tanpa memiliki setidaknya satu kelebihan.
Sekarang Kalea tahu kelebihannya. Menjadi teman yang
baik dan mendukung teman-temannya sampai sukses itu adalah kelebihannya. Kalea
membuka laptopnya dan memulai membuat cerpen. Menulis adalah favoritnya.
Sekarang suasana hati Kalea sangat baik. Kalea pun bisa menulis dengan semangat
sampai mengantuk dan tertidur. Keesokan harinya, Kalea dengan semangat
menyambut matahari pagi. Kalea dan kelebihannya. Kalea bersyukur untuk itu.
“Terimakasih tuhan, telah menciptakan hati yang baik ini untukku. Terimakasih
juga Engkau telah mengirimkan Shana untuk menjadi sahabatku, jaga dia selalu ya
Tuhan.” Ujar Kalea sambil bangun dari tempat tidur dan bersiap menjalani hari
ini.
Alifia Andhika 09:19 pm 3 September 2020
Comments
Post a Comment